Sabtu, 02 November 2013

VICKYNISASI “Sebagai gejala komunikasi bahasa baru” yang berefek negatif

Di susun oleh kelompok HARMONISASI
SEMESTER 7
ILMU KOMUNIKASI



SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PAHLAWAN 12
SUNGAILIAT BANGKA
TAHUN 2013



PENDAHULUAN

Nama Vicky Prasetya alias Hendrianto mendadak menjadi terkenal di seluruh dunia maya. Mantan tunangan seorang penyanyi dangdut Zaskia Gothic menjadi terkenal disebabkan konfrensi persnya diunggah ke situs video sharing Youtube. Tanpa ada beban sedikitpun, Vicky mengeluarkan tata bahasa gado-gadonya saat diwawancarai. Kata-kata seperti “kontroversi hati”, “konspirasi kemakmuran”, “harmonisasi”, hingga “kudeta keinginan” bahasa inggris twenty nine my age dan lain sebagainya. Maka, tidak mengherankan jika di dunia maya bahkan di media massa cetak dan elektronik terutama televisi, nama Vicky banyak dibicarakan, dijadikan lelucon dan olok-olok .
Namun, tanpa disadari fenomena Vickynisasi seperti itu sudah lama terjadi dalam kehidupan kita. Hanya saja, kita tidak menyadari semua itu karena sudah terlalu terbiasa. Salah satu contohnya adalah, seperti yang pernah menjadi trend beberapa waktu yang lalu, penggunaan kata “secara” yang tidak pada tempatnya. Makna kata“secara” saat itu sempat berubah menjadi seperti kata “adalah”, sebagaimana sering diucapkan oleh mereka yang menyebut dirinya “anak gaul” (secara gue itu anak gaul gitu loch; secara kamu itu kan temanku dan lain sebagainya). Mereka yang lahir di dekade tahun 1960an dan 1970an dan tumbuh dewasa di era Orde Baru mungkin akrab dengan penggunaan kata “daripada” yang juga sebenarnya salah tempat. Namun, karena yang menggunakan adalah orang yang paling berkuasa saat itu, maka sepertinya tidak ada yang berani mengoreksi.
Fenomena-fenomena diatas menimbulkan efek negatif untuk komunikasi kita dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik benar yang sering dianjurkan saat kita mengenyam pendidikan mulai dari SD sampai sarjana bahkan saat kita berada di tempat kerja. Maka kelompok kami pun tertarik membahas mengenai VICKYNISASI “sebagai gejala komunikasi gaya baru” yang lebih banyak berefek negative daripada positif bagi budaya berbahasa kita.

PEMBAHASAN

A. VICKYNISASI sebagai gejala komunikasi gaya baru yang negatif
Susunan kalimat dalam bahasa kita, meskipun sebenarnya sudah memiliki bentuk baku, masih saja sering dipergunakan secara salah dan kurang efektif. Bahkan kesalahan-kesalahan tersebut masih bisa kita temukan dalam bahasa tulisan, yang seharusnya sudah melalui proses editing yang ketat sebelum diterbitkan.
Dalam konsep manusia Indonesia dewasa ini, bicara dengan gunakan kata terminologi asing  ialah sesuatu yang keren, intelek, dan berwibawa. Pemahaman ini mau tidak mau ada dan berkembang pesat dalam diri masyarakat Indonesia. Namun masalahnya jika digunakan pada kalimat yang salah maka akan membuat kesan intelek berubah menjadi sebaliknya. Dan hal ini akan membuat pergeseran makna kata tersebut.

Berikut ini adalah transkrip dari video konfrensi pers Vicky usai adakan pertunangan dengan Zaskia Gotik.
“DI usiaku saat ini… ya TWENTY NINE MY AGE, aku masih merindukan APRESIASI karena BASICALLY aku suka musik walaupun KONTROVERSI HATI-ku lebih menunjukkan KONSPIRASI KEMAKMURAN yang kita pilih, kita belajar pada HARMONISISASI pada hal yang terkecil sampai yang terbesar, ngga boleh ego terhadap satu kepentingan & MENGKUDETA apa yang menjadi keinginan. Ini bukan MEMPERTAKUT bukan MEMPERSURAM STATUTISASI KEMAKMURAN keluarga dia tetapi menjadi CONFIDENT. Kita harus bisa MENSIASATI KECERDASAN itu untuk LABIL EKONOMI kita lebih baik; aku sangat bangga.”
                                                                                                    
Melihat transkrip dari video konfrensi pers Vicky Prasetyo diatas maka bisa dilihat beberapa kata kata asing dan kata serapan juga bahasa Indonesia digunakan tidak sesuai dengan tempatnya sehingga maknanya jadi berubah bahkan terkesan tidak sesuai.
Inilah kehebohan sekaligus bencana besar terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar kedepannya, baik penulisan maupun pengucapan. Melihat dan menelaah lebih dalam bagaimana ucapan dan penulisan dari hasil transkrip video tersebut. Penulis beranggapan ini hal ini sangat berbahaya dan berpegaruh cukup besar, karena semakin lama kita fokus dengan “vikinisasi” maka kita akan makin terpengaruh dan terbiasa menggunakan bahasa yang salah itu walaupun sekedar untuk olok-olokan.
Karena Dalam Sistem komunikasi Indonesia Bahasa adalah budaya universal dengan asumsi dasar : komunikasi adalah proses budaya, pertukaran budaya antar per orangan, kelompok, massa . Dan budaya  merupakan keseluruhan gagasan & karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya (Koentjaraningrat :1997) . Jika vikinisasi berkembang menjadi komunikasi yang dibiasakan bukan tidak mungkin bisa menjadi budaya bahasa yang baru.
Namun pada kenyataannya media terus menjadikan kasus vikinisasi ini menjadi bahan berita mereka dan menyodorkannya pada penonton di Indonesia sebagai khalayak media. Kita akui juga vikinisasi ini sebagai sesuatu yang apabila orang mendengarnya akan membuat mereka akan tertawa.
Tetapi, dibalik itu semua ada tanggung jawab besar untuk kita, khususnya mahasiswa dan masyarakat Indonesia umumnya. Untuk dapat segera mungkin memberikan penjelasan bahwa penulisan dan ucapan Vicky pada video tersebut ialah salah . Jika berkaca pada pedoman pada kaedah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Bukankah, bahasa Indonesia salah satu alat pemersatu bangsa ? Apalagi bahasa Indonesia terbentuk melalui ikrar Sumpah Pemuda dengan segala perjuangan mereka yang harus kita hargai. Kita semua sepakat akan hal itu. Tetapi, ironis dewasa ini, bahasa Indonesia telah kehilangan marwah dan wibawanya di masyarakat dunia, jangan dulu bicara dunia. Untuk masyarakat Indonesia sendiri yang gunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah mempermalukan bahasanya sendiri dengan melecehkan kebakuan bahasa Indonesia.
 Berbicara dengan campur adukan bahasa Indonesia dan bahasa asing layaknya makanan gado-gado, mengadopsi kata-kata asing tidak pada posisi yang benar. Dan adanya pemahaman bagi mereka, bahwa indikasi besar untuk dikatakan sebagai manusia intelek dilihat dari apakah bahasa mereka dipahami atau tidak, jika tidak artinya mereka berhasil jadi seorang intelek dan sebaliknya
Dengan alasan diatas maka  kelompok kami menganggap vickynisasi berefek negative dan ALAY karena :
·         Menggunakan bahasa Indonesia tidak sesuai EYD
·         Menggunakan bahasa serapan yang bertujuan untuk sok intelek tapi tidak benar
·         Merusak kaedah bahasa Indonesia kita yang diwujudkan dengan perjuangan melalui ikrar sumpah Pemuda
·         Menggunakan bahasa asing yang salah
·         Membuat komunikan yang menerima pesan tidak paham apa maksud pesannya.
·         Tujuan komunikasi adalah peningkatan status sosial agar dianggap punya pendidikan tinggi dan status sosial yang disejajarkan dengan pengusaha-pengusa muda yang sukses

B.Pengaruh gaya bahasa vicky (vikinisasi)
                        
Fenomena Vicky punya pengaruh besar dalam mempengaruhi pemahaman dan implementasi masyarakat Indonesia tentang penulisan dan pengucapan bahasa Indonesia yang baik dan benar kedepannya. Sebab, Vicky adalah tunangan dari zaskia gotik penyanyi dangdut yang sedang naik daun. Mereka berdua telah menjadi publik figur, disaat itu juga puluhan juta masyarakat Indonesia akan memperhatikan mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki. Terutama tingkah laku seperti, gaya hidup. Dibantu lagi seringnya media massa yang terus- menerus memutarkan kembali video Vicky, menambah tersebarnya ‘virus-virus” Vicky.
Media massa dengan dahsyat dan giatnya saat ini sedang mendidik dan mengarahkan masyarakat Indonesia untuk berbicara dan menulis layaknya Vicky, inilah hal yang tidak pernah kita sadari. Sebenarnya, jika bahasa “Vickynisasi” tidak menjadi perhatian media. Penulis yakin, fenomena Vicky tidak akan punya pengaruh sebesar ini.

Berikut ini pencarian penulis bagaimana gaya bahasa Vicky (Vickynisasi) menjadi tren di berbagai kalangan masyarakat Indonesia sebagi dampak vickynisasi:

1.      Bahkan politikus terimbas oleh fenomena Vickynisasi seperti mantan ketua umum partai Demokrat, Anas Urbaningrum.

2.      Lalu Bergaya 'Vickynisasi', Wali Kota Makassar ditegur Hakim. http://news.okezone.com/read/2013/09/19/339/868559/bergaya-vickynisasi-wali-kota-makassar-ditegur-hakim
4.      Terbaru, heboh! Video Syahrini bicara ala Vicky http://hot.detik.com/read/2013/10/16/132345/2386931/230/heboh-video-syahrini-bicara-ala-vicky
Dan masih banyak lagi mereka yang terpengaruh akibat fenomena Vicky dan gaya bahasanya. Segelintir manusia yang hanya berikan perhatian pada dampak negatif terhadap eksistensi bahasa Indonesia kedepannya. Mereka hanya sibuk jadikan ini sebagai lelucon semata.

C. Peran media sebagai penyebar “vickynisasi”
Berikut pendapat Menko Polhukam, Djoko Suyanto tentang peranan media dalam membentuk opini publik.
Sindonews.com,http://nasional.sindonews.com/read/2013/02/27/12/722347/djoko-media-memiliki-peranan-penting-membangun-opini-publik
 “Media memiliki peran strategis dan kekuasaan dalam membentuk opini dan konstruksi yang beredar di masyarakat. Baik buruknya suatu negara dapat dilihat dari mana media menghasilkan sudut pandang,”.
“Kekuatan pers bisa membentuk kenyataan, realita yang ingin disampaikan, ditonjolkan, maupun yang disingkirkan,” tambahnya.
Kita berharap media tidak lagi bermain-main dengan kekuatan dan peran strategisnya dalam membentuk opini/persepsi masyarakat. Memilih dan memilah hal yang ingin disampaikan ke masyarakat umum.
Media massa dengan dahsyat dan giatnya saat ini sedang mendidik dan mengarahkan masyarakat Indonesia untuk berbicara dan menulis layaknya Vicky, inilah hal yang tidak pernah kita sadari
Video konfrensi pers Vicky jika terus menerus di tayangkan baik di televisi dan transkripnya ditulis di media cetak baik koran, majalah bahkan di dunia maya. Akan dapat membentuk opini/persepsi masyarakat tentang gaya bahasa, kosakata, dan penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Media punya kekuatan untuk bentuk opini/persepsi masyarakat, dan ciptakan tren baru di masyarakat. Buktinya saja, banyak masyarakat terutama kalangan remaja yang mulai ikut mempraktekkan penulisan dan pengucapan Vicky dalam video-video yang di unggah di situs youtube
Fenomena Vikcy tidak akan besar sebegitunya jika media tidak turut campur dalam pemberitaan Vikcy dan gaya bahasanya. Saat ini media membantu fenomena “Vickynisasi” dalam pembodohan kepada masyarakat Indonesia. Dan apabila yang dilakukan media saat ini terus berlanjut,  niscaya akan muncul “Vicky...Vicky” yang lain dan berikan dampak buruk pada kaedah penulisan dan pengucapan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

D. Dampak penggunaan bahasa “asing” terhadap bahasa kita
Bahasa sebagai bagian dari kebudayaan manusia bisa hilang. Paling terancam adalah bahasa yang digunakan di berbagai tempat terpencil di dunia.
Dalam zaman yang kian mengglobal, terhubung, dan homogen, bahasa yang dipakai di tempat terpencil tidak lagi terlindung oleh batas negara atau batas alam dari bahasa yang mendominasi dunia komunikasi dan perdagangan.
Dalam artikel Suara-Suara yang Sirna di National Geographic Indonesia edisi Juli 2012 disebutkan satu bahasa punah setiap 14 hari. Sebelum abad berganti, hampir setengah dari sekitar 7.000 bahasa yang dipakai di bumi mungkin akan punah, karena masyarakat mengganti bahasa ibunya dengan bahasa Inggris, Mandarin, atau Spanyol.
Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mayoritas kegagalan siswa SMA pada ujian nasional tahun ini ada pada Bahasa Indonesia dan Matematika. Mereka pelajar di sekolah-sekolah di wilayah perkotaan, seperti ibu kota provinsi atau ibu kota kabupaten/kota.
"Kenapa Bahasa Indonesia dan Matematika, harus kami analisis lagi," kata Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hamid Muhammad di Jakarta, Kamis (24/5).


                                                            PENUTUP
A. Kesimpulan
·         Gaya bahasa Vickynisasi berdampak negative terhadap EYD
·         Vickynisasi adalah gaya bahasa orang sok intelek
·         Media massa menjadi media utama yang ikut bertanggung jawab terhadap pembodohan bahasa dengan menyodorkan secara terus menerus bahasa vickynisasi
B. Saran                                              
·         Mencintai bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam mewujudkan cita-cita Ikrar Sumpah Pemuda
·         Menggunakan bahasa asing atau serapan hanya sebagai pendukung komunikasi namun harus tetap benar dan sesuai penempatannya
·         Media massa harus mendidik dan menggiring penontonnya agar berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan tidak terpengaruh dengan efek negative bahasa-bahasa prokem atau alay seperti vikynisasi.






                                                 DAFTAR PUSTAKA

http://news.okezone.com/read/2013/09/19/339/868559/bergaya-vickynisasi-wali-kota-makassar-ditegur-hakim


http://anjunofarofpki.blogspot.com/2013/10/media-bantu-fenomena-vickynisasi-dalam.html




Sabtu, 05 Oktober 2013

Artikel Sistem Komunikasi Indonesia



“Pengaruh budaya menghargai keanekaragaman budaya bangsa pada Radio Republik Indonesia Sungailiat Kepulauan Bangka Belitung”

Radio Republik Indonesia Sungailiat dulunya adalah Stasiun Regional II Sungailiat yang merupakan kelanjutan dari RRI Persiapan Pangkal Pinang ( th. 1996 ) yang berlokasi di Jl. RRI Pangkal Pinang, tepatnya di gedung Nasional. Untuk pertama kali mengudara pada tanggal 15 Desember 1966. Sejalan dengan berdirinya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan adanya perubahan status RRI menjadi Perjan sesuai PP 37 tahun 2000 tanggal 7 Juni tentang pendirian Perusahaan Jawatan RRI, maka kemudian tahun 2001 RRI Regional Sungailiat berubah menjadi Perjan RRI Cabang Muda Sungailiat. Sejalan dengan era reformasi dan tuntutan berbagai pihak mengenai peran tugas dan fungsi RRI, maka kemudian melalui proses diskusi yang panjang yang pada akhirnya RRI menjadi Lembaga Penyiaran Publik (LPP) dengan diundangkannya UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Sesuai dengan Peraturan Direksi No. 002/PER/DIREKSI/2006 maka RRI Sungailiat termasuk dalam klasifikasi Stasiun Penyiaran Tipe C.
RRI Sungailiat mempunyai visi sebagai Radio yang mampu membangun karakter Bangsa dan misinya mempunyai point-point dalam pembangunan juga pemersatu keanekaragaman budaya bangsa Indonesia. Tak terkecuali di RRI Sungailiat yang memiliki dua programa yaitu RRI Pro 1 dan RRI Pro 2. Adapun masing-masing programa memiliki kalsifikasi pendengar yang berbeda karena Pro 1 untuk semua lapisan masyarakat dan Pro 2 untuk kalangan remaja dan anak muda. Adapun Programa yang paling menonjol dalam nilai-nilai menghargai keanekaragaman budaya di Indonesia mulai dari Suku, Agama, Budaya dan sebagainya adalah Programa 1 Sungailiat. Hal tersebut tidak hanya tercermin dari gaya bahasa penyiar dan reporter saat menyampaikan informasi maupun membawa acara yang masih menjaga penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar namun tidak terlalu kaku. Selain itu dalam penyampaian informasi juga diusahakan tidak menyinggung SARA karena tujuannya adalah menjadi Radio pemersatu bangsa.
            Dalam hal lainnya yang bisa terlihat secara kasat mata adalah acara-acara yang disuguhkan RRI Pro 1 karena acara-acara beberapa daerah di Nusantara ada di sana. Contohnya BatangHari 9 untuk Palembang Sumatera Selatan, Minang Maimbau untuk Padang Sumatera Barat, Anging Mamiri untuk Bugis, Tatar Pasundan untuk Sunda, Campur Sari untuk Jawa, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, untuk tetap menjaga nilai-nilai local Bangka Belitung sendiri ada juga khusus acaranya yaitu Dendang Serumpun Sebalai ditambah lagi acara-acara lagu dangdut yang disuguhkan dalam bahasa daerah Bangka yaitu Bedincak Bedaek. Tidak hanya dalam segi budaya dan bahasa, namun juga keanekaragaman agama di Indonesia. RRI Pro 1 Sungailiat mempunyai acara-acara khusus keagamaan diantaranya Mimbar Islam, Mimbar Nasrani, Mimbar Budha dan Hindu. Dulu juga ada acara yang berbahasa mandarin untuk keturunan Tionghoa yang terkenal perbaurannya dengan masyarakat di Bangka Belitung.
            Hal-hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa RRI Sungailiat khususnya RRI Pro 1 dalam membentuk karakter bangsa yang menjunjung tinggi saling harga-menghargai, toleransi, dan nilai nilai positif lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Bahwasanya perbedaan bukanlah sebuah hal yang harus jadi masalah namun perbedaan adalah anugrah yang mempu memperkaya khasanah budaya Indonesia.
            Selain beberapa hal tadi nilai-nilai menjunjung tinggi kode etik jurnalistik juga tercermin dari informasi dan laporan yang disampaikan penyiar dan reporternya . Hal tersebut dikarenakan menjadi salah satu point penting dalam misi RRI yang pertama yaitu memberikan pelayanan informasi yang dapat menjadi acuan dan sarana control sosial masyarakat dengan memperhatikan kode etik jurnalistik/ kode etik penyiaran. Jadi bahasa atau informasi yang digunakan tidak boleh menyudutkan suatu pihak atau memihak suatu kelompok namun lebih menjadi penyambung lidah masyarakat dalam menyampaikan informasi. Berbeda dengan dahulu saat orde baru RRI yang di cap sebagai corong pemerintah kini RRI telah bertransormasi menjadi Radio Independen.
            Hal positif yang bisa terlihat jelas juga dalam memberikan ruang kepada siapa saja warga Negara Indonesia untuk menyampaikan aspirasi melalui acara interaktifnya namun disertai penyampaian yang sopan dan beradab karena mencerminkan jati diri bangsa. Selain itu RRI Sungailiat dalam penyiaran acara-acanya juga dianggap menjaga nilai-nilai religius Islami karena sebagian besar penyiar dan Reporternya beragama Islam ditambah lagi sebagian besar masyarakat Bangka Belitung adalah pemeluk agama Islam sehingga dalam pembuka diawali “Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh” dan ditutup dengan “Wassalamualaikum warohmatullah hiwabarokatuh”. Penyiar dan reporter selalu dibiasakan untuk bertutur kata sopan, berbahasa Indonesia baik dan benar, tidak berlebihan dalam menyampaikan guyonan dan menjaga guyonan jangan sampai melukai atau menyinggung perasaan siapapun, menyampaikan informasi dengan intelek dan tegas.
            Demikianlah yang tergambar dari siaran RRI Sungailiat terutama programa 1. Dan hal-hal tersebut menjadi strategi mereka agar tetap dicintai pendengarnya. Karena siapa saja merasa memiliki mereka tanpa menyadari perbedaan-perbedaan diantara mereka. Memang harus seperti itu adanya karena kekuatan radio hanyalah audio bisa dalam bentuk suara maupun music. Jika suara dalam bentuk lisan yang didengarkan sudah melukai hati maka pendengarpun berpindah hati. Namun jika suara dalam bentuk lisan yang didengarkan penuh nilai-nilai luhur maka pendengarpun akan senantiasa menjadi pendengar setia sampai usia mereka senja.
           

Jumat, 24 Mei 2013

FEATURE


1 Muharram Kampung Kenanga;
Momen mempererat  Ukhuwah Islamiyah.

Kampung Kenanga dulunya terkenal dengan pohon Kenanga yang mengeluarkan aroma wangi yang khas dan ukurannya besar sehingga bisa dibuat perahu. Dari arah Pangkalpinang, Kelurahan Kenanga terletak sebelum masuk ke Kota Sungailiat. Masyarakatnya terkenal ramah, santun dan religius.
Ada satu hal yang unik dan patut dilestarikan dari kebiasaan masyarakat kelurahan Kenanga Kabupaten Bangka. Hal tersebut yaitu perayaan  tahun baru Islam, 1 Muharram yang rutin dilakukan oleh masyarakatnya. Perayaan 1 Muharram dilaksanakan oleh seluruh umat Islam di seluruh belahan dunia tapi tidak semua tempat atau daerah merayakannya secara meriah. Khusus di Bangka Belitung, Kenanga adalah salah satu tempat yang merayakannya secara meriah dan besar-besaran.
Salah seorang anggota Ikatan Keluarga Besar Anak Kenanga (Ikebana) bernama  Rustam yang kini tinggal di Bogor Jawa Barat,  mengatakan bahwa perayaan 1 muharram di Kenanga sudah diperingati sejak tahun 1947 yang dimotori oleh ketua adat yang pada waktu itu merupakan kakeknya sendiri yaitu Thalib bin  Galib dan kepala desa Khatob bin Hakim. Menurut salah seorang sepuh Desa Kenanga lainnya, Cak  Mid,  perayaan 1 Muharram digambarkan dengan kegiatan menjadikan pohon Kenanga yang besar  menjadi perahu lalu diarak oleh masyarakat setempat dengan melukis wajah mereka seperti orang-orang dari suku Dayak.  Pesan dari nenek moyang mereka agar perayaan tersebut harus terus dijalankan.
Perayaan Muharam biasanya diawali dengan adat Nganggung Sepintu Sedulang yaitu membawa makanan dari rumah ke Masjid menggunakan dulang. Setelah mereka sampai ke Masjid, acara berikutnya dilanjutkan dengan ceramah agama. Dan terakhir pembukaan Selubung. Di dalam Selubung itu terdapat berbagai barang peninggalan masyarakat setempat diantaranya Kerito Surong, Lumpang Kayu,  Bubu, Jaring, Guci, Cakar rumput, Cangkul dan peralatan lainnya. Untuk tahun kemarin, perayaannya malah ditambahkan dengan Zuriyat Urang Kenango (Pengumuman yang berisi silsilah masyarakat Kenanga).  
Disamping berbagai peralatan peninggalan tersebut, juga disiapkan dulang raksasa berdiameter 1,5 meter. Dulang raksasa itu berisi kue Bolu Kujo dan hidangan hidangan lainnya yang dimakan bersama setelah menjamu para pejabat dan tamu yang hadir di Masjid. Selain itu ada juga telur Idang yakni telur rebus yang sudah diwarnai dan dihiasi berbagai hiasan yang ditancapkan di pohon pisang. Telur ini menjadi rebutan masyarakat terutama ibu-ibu. Setelah Nganggung selesai, para undangan dan masyarakat biasanya langsung bertamu ke rumah sanak famili maupun kenalan yang sudah menyiapkan berbagai makanan.
Selain nganggung, banyak juga diselenggarakan kegiatan seperti pawai Budaya, Lomba Agama seperti Azan, Rebana, Mengaji, Kegiatan Olahraga, Panjat Pinang dan seabrek kegiatan lainnya.
Masyarakat Kelurahan Kenanga merayakannya seperti layaknya lebaran Idul Fitri dan Idul Adha (Qurban). Setiap rumah seolah menggelar open house dan menyediakan beragam makanan seperti ketupat, opor ayam, rendang, kue dan buah-buahan dan yang paling khas adalah kue Bolu Kujo. Kue ini berbahan dasar santan kelapa dan hanya muncul pada hari-hari besar tertentu termasuk 1 Muharram.
Layaknya menyambut lebaran, pada saat itu warga Kenanga yang berada di luar daerah sengaja mudik untuk berkumpul bersama  keluarga.  Sanak famili jauh juga datang bersilaturhami pada hari itu. Ada juga tamu yang berasal dari sejumlah wilayah misalnya Koba, Mentok, Pangkalpinang, Belinyu dll.  Saking ramainya perayaan tersebut membuat jalanan macet karena banyaknya tamu yang datang.
Maka tak heran perayaan 1 Muharam sekarang sudah menjadi even tahunan dalam kalender wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka. Salah satu tujuannya untuk melestarikan budaya dan menjadi ajang silahturahmi masyarakat.  Seperti disampaikan oleh Dra. Windiati selaku Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka.
Suasana kebersamaan dan kekeluargaan terasa ketika sanak keluarga dari luar daerah saling melepas. Canda dan gelak tawa pun membuat hangat suasana hampir di setiap rumah warga di Kenanga. Kegembiraan itupun dirasakan oleh masyarakat dari tempat lain yang bertamu dan bersuka cita pada hari itu.
Ukhuwah Islamiah semakin erat ketika perayaan 1 Muharam dengan tidak melupakan makna sebenarnya dari 1 Muharram sendiri. Perayaan 1 Muharram patut dilestarikan karena ia merupakan identitas masyarakat Bangka Belitung. Sebuah kearifan lokal mencerminkan masyarakat yang ramah, santun serta religious dalam terpaan arus globalisasi yang makin kencang dari tahun ketahun. Partisipasi masyarakat dalam perayaan itu adalah salah satu pilar utama dalam pelestarian budaya kita, budaya Bangka Belitung.